Sebelum publik mengenal nama Kopi Bubuk Cap Banyuatis tercetak pada kemasan berwarna kuning, kisah kami yang sesungguhnya dimulai cukup jauh di belakang, oleh pendahulu kami.

Pada masa itu, belum ada seorang pun yang membicarakan tentang merek, jaringan distribusi, segmentasi pasar, ataupun strategi perusahaan. Belum ada pabrik, kendaraan operasional, jajaran produk, maupun kemasan kuning yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat.

Yang ada hanyalah sebidang tanah, tanaman kopi, dan keberanian seseorang untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Jika perjalanan komersial Kopi Banyuatis dimulai sekitar tahun 1960, akar kisahnya telah tertanam jauh sebelumnya — sejak 1928, melalui tangan seorang seniman. Akar itu kemudian tumbuh melalui empat generasi, masing-masing hidup di zaman yang berbeda, menghadapi tantangan yang berbeda, dan memberi bentuk baru pada warisan yang mereka terima. Namun mereka dipersatukan oleh satu nilai yang sama: sesuatu yang diwariskan tidak cukup hanya untuk dimiliki — ia harus dijaga, dikembangkan, dan pada waktunya diteruskan kembali kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

Dari Panggung Wayang ke Sebidang Kebun

Perjalanan keluarga kami mulai tercatat pada 1928, melalui kakek buyut kami, Ketut Sukeradja, yang dikenal sebagai Jro Dalang Gelgel. Beliau adalah seorang dalang ternama pada masanya.

Di tangan seorang dalang, wayang bukan sekadar boneka yang digerakkan di balik layar. Setiap tokoh memiliki suara, watak, dan jalan hidup. Setiap cerita mengandung nilai tentang keberanian, kesetiaan, keserakahan, pengabdian, dan kebaikan. Menjadi seorang dalang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara — Jro Dalang Gelgel harus memahami cerita, mengingat alur yang panjang, memainkan berbagai karakter, menguasai irama pertunjukan, serta menyampaikan pesan yang dapat diterima masyarakat. Melalui suara dan gerakan tangannya, tokoh-tokoh yang semula diam seolah memperoleh kehidupan.

Keahlian itulah yang membawanya mendalang ke berbagai tempat. Namun hasil dari kegiatan mendalang tidak semata digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jro Dalang Gelgel memilih menyisihkan hasil kerja kerasnya untuk membeli sebidang tanah, yang kemudian mulai ditanami kopi.

Keputusan Sederhana yang Menjadi Awal Sebuah Legenda

Mungkin pada waktu itu belum terbayangkan bahwa keputusan tersebut akan menjadi awal dari perjalanan usaha keluarga yang bertahan lebih dari enam dekade. Kopi mungkin hanya dipandang sebagai salah satu hasil bumi yang dapat ditanam, dipanen, dan dimanfaatkan untuk menopang kehidupan keluarga.

Namun sejarah tidak selalu dimulai dari keputusan yang terlihat besar. Sering kali, sejarah justru tumbuh dari keputusan sederhana yang dilakukan secara tekun:

  • Membeli sebidang tanah.
  • Menanam beberapa pohon.
  • Merawatnya.
  • Menunggu hingga tanaman menghasilkan buah.

Kemudian mengulangi proses itu dari satu musim menuju musim berikutnya.

Tanah yang dibeli dari hasil mendalang tersebut menjadi salah satu warisan pertama yang kelak menghubungkan keluarga kami dengan kopi. Jro Dalang Gelgel mungkin tidak mendirikan perusahaan bernama Kopi Banyuatis. Beliau tidak menciptakan kemasan, mendaftarkan merek, ataupun membangun pabrik.

Namun beliaulah yang menanam akar dari segala sesuatu yang kemudian tumbuh setelahnya.

Penulis : Radinna W